Posted by: irwiyan | March 1, 2009

Kenyataan di Sekitar Kita

Coca-cola dulu warnanya hijau
Otot terkuat yang ada dalam tubuh kita adalah
lidah
Perempuan berkedip dua kali lebih banyak dari
pada laki-laki.
Menahan nafas tidak akan membuat kita
mati.
Bersin terlalu keras dapat mematahkan tulang
iga, memutuskan pembuluih darah di kepala atau leher dan mengakibatkan
kematian.
Setiap raja dalam kartu remi melambangkan
raja-raja besar jaman dahulu: 1.Raja sekop-raja Daud, 2. raja Kriting-raja
Alexander agung,3. raja hati Raja Charlemagne, 4. raja wajik – raja
Julius Caesar.
111,111,111 x 111,111,111 =
12,345,678,987,654,321
Setiap manusia tidak dapat menjilat siku
tangannya sendiri
Apa persamaannya rompi anti peluru,printer
lazer, tangga darurat dan wiper mobil? jawabnya : semua ditemukan oleh
perempuan!
Satu-satunya makanan yang tidak bisa busuk
adalah MADU.
Buaya tidak bisa menjulurkan lidahnya
Siput bisa tidur selama 3 tahun.
Semua beruang kutub KIDAL
American Airlines menhemat $40,000 tahun 1987
dengan cara mengurangi 1 buah olive dari setiap piring salad yang mereka
sajikan untuk penumpang kelas satu
Indera perasa kupu-kupu ada pada kakinya
Gajah adalah satu-satunya hewan mamalia yang
tidak bisa melompat
Rata-rata manusia lebih takut pada laba-laba
dari pada kematian
Semut selalu jatuh ke kanan setiap kali
disemprot cairan anti hama.
Kursi listrik ditemukan oleh seorang dokter
gigi
Jantung manusia dapat menyemprot darah sejauh 10
meter
Dalam 18 bulan 2 ekor tikus bisa punya anak
lebih lebih dari satu juta anak tikus
Memakai Headphone selama satu jam dapat
menstimulasi perkembangan bakteri dalam telinga sebanyak 700 kali lipat

dan akhirnya, 99% orang yangmembaca email ini
pasti mencoba menjilat siku tangannya…nggak percaya ?.. tanya deh, ke temen
yang lain….he-he-he, just fun,jus kidding untuk membunuh kebosanan dalam
rutinitas……jangan dimasukkan dihati..
Tetap semangat…tetap berkarya..

Advertisements
Posted by: irwiyan | February 19, 2009

Ketika Penelitian dan Bola Bingpong Bersua

(episode aku kamu)

#2005

Dulu sebelum masuk ITB, aku sempat bermimpi bersua dengan seorang dengan dosen ITB sekaligus bercengkerama dengan beliau. Aku tidak peduli apa yang aku bincangkan waktu itu. Bodo amat. Yang lebih jadi perhatian di movie itu, aku ketemu ma dosen ITB. “Gila!!! Gw bisa ketemu dan ngobrol ma dosen ITB!!!”.  Senang bukan kepalang waktu itu. Ya perlu dimaklumi, waktu itu emang lagi ngebet-ngebetnya masuk ITB. Belum ada loh orang kampung yang masuk ITB. Asli. Sumpah.

#2009

Empat tahun berlalu dan sekarang aku udah tingkat IV di Teknik Kimia ITB. Aku gak dikasih tau ibu kalo waktu beliau mengandung 4 bulan, ternyata ada yang menulis di garis hidupku bahwa aku akan sempet ngerasain betapanya Teknik Kimia ITB.

Tadi malem, aku begadang di lab. Maklum disemanget-semangetin biar cepet kelar penelitiannya. Lha tadi malem aku ketemu Professor. Tapi aku heran. Kenapa aku gak segirang dulu. Profesor loh. Profesor loh. Ini nyata. Ini fakta. Ini realita. Bukan asal cerita. Profesor menjumpai ku waktu aku lagi nge-run penelitianku. Kenapa ya kok biasa thok gini. Apa mimpi tu selalu lebih indah dari kenyataan. Ah nggak. Trus apa???

Aku gak bisa nemuin jawabannya  ‘kenapa’. Ya, pertanyaan ‘kenapa’. Pertanyaan yang menyebalkan karena butuh jawaban-jawaban filosofis, teoritis, bahkan taktis.

Aku cuma bisa mengawang-awang pengalaman ini sembari (ceileeh sembari) rehat penelitian ini sambil maen pingpong. Lucunya, meja pingpong nya punya Pak Profesor. Terima kasih Prof!!! (@mp3)

Posted by: irwiyan | March 9, 2008

Antara Dosa dan Sebutir Nasi

Antara Dosa dan Sebutir Nasi

Ingatkah kawan, berapa kali kita makan dalam sehari? Ingatkan pula sahabatku, berapa butir nasi yang tersisa ketika kita menyudahi makan. Tanpa adanya prejudice yang bermacam-macam, coba kita kuantifikasi jumlah nasi yang terbuang percuma. Padahal butiran-butiran nasi itu telah melewati sekian banyak langkah. Langkah itu juga sudah termasuk kepongahan para pembuat kebijakan menyangkut masalah pengadaan pupuk, bibit dan lain-lain-lain-lainnya.

Mari kita mulai menghitung-hitung sesuatu yang sepele tapi sesungguhnya tidak. Jika kita setiap hari makan tiga kali, maka kita anggap kita makan tiga piring dalam sehari. Jika dalam setiap piring kita menyisakan secuil nasi di pinggir setiap piring, berapa jumlah yang tersisa dalam sehari. Katakanlah secui itu 10 gram, berarti setiap hari kita membuang nasi sebanyak 30 gram.

Berapa banyak nasi yang terbuang dalam sebulan? Jika dihitung secara linear, maka dalam sebulan kita telah me-mubazir-kan nasi sebanyak 900 gram. Untuk lebih mudahnya, taruhlah dalam sebulan bukan 900 gram, tetapi 1 kg. Ini mungkin terjadi karena bisa saja dalam sekali makan, lebih banyak yang disisakan dari yang diasumsiin di atas. Atau bisa saja dalam sehari kita makan lebih dari tiga kali.

Kemudian, jika yang melakukan hal seperti itu bukan cuma kita seorang? Jika yang melakukan hal seperti itu (ambil angka minimal) sebanyak 1000 orang di seluruh Indonesia (berarti sekitar 0,0004 % penduduk Indonesia), maka nasi yang terbuang sekitar 1 ton perbulan. Bagaimana jika kenyataannya lebih dari itu karena angka 1000 itu terlalu kecil? Sekali lagi tanpa prasangka yang terlalu berlebihan, maka jumlah 100 ton (bahkan lebih), itu mungkin saja terjadi.

Bayangkan kawan!

Pertanyannya, apakah kita bagian dari 1000 orang itu? Tidak kah kita miris terhadap orang-orang yang belum tentu makan dalam seharinya, dalam 2 harinya, dalam 3 harinya, dan seterusnya?Tidakkah hati ini pilu mendengar banyak yang busung lapar?

Kemarin, ada berita yang sangat menyedihkan, Kawan. Ketika telinga dan mata menyimak berita di tv, kemudian signal berita itu dikirim oleh transducer alami dan sampailah ke hati yang paling dalam, hati ini berkata “Masya Allah!!! Apakah aku turut berdosa terhadap kematian mereka ?”. Ya, mereka adalah seorang ibu yang sedang mengandung anak keempatnya beserta seorang anknya yang masih kecil. Merka mati dalam keadaan lapar. Sekali lagi, mereka mati kelaparan karena tak bisa makan sesuatu yang layak dimakan.

Bisa jadi dosa-dosa yang tak kita sadari turut mengantarkan nyawa mereka terlepas dari tubuh yang sangat menderita. Sadarkah kita akan hal itu?

Adirwiyaaq

Dago, Bandung, 9 Maret 2008

Di kamar kosan sambil menikmati anugerah gerimis yang tak henti-henti…

Posted by: irwiyan | March 4, 2008

Ada Maling di Rumah Polisi

Hidup emang sudah susah…

tapi jangan dibikin susah…

itu lah 2 baris lagu dari Slank yang melegenda di telinga kita. Terutama kita yang susah. Seperti aku ini. Menanti awal bulan berharap ada duit nyelip di rekening BNI. Tapi setiap hari ngecek hasilnya alpa juga. Kemaren malem ibu telpon nanya kabar. Kirain mau kirim duit. Eh, beliau nanya ” Duitnya masih gak?”. Aku jawab spontan “Masih ada kok, Bu.”. Iya masih ada, tapi duit orang . Itu juga di dompet orangnya!

Bukan maksud bohong, Bu. Tapi berusaha tidak merepotkan ibu. Sudah..sudah. rasanya hati dan nafsu terus berkelamin, eh berkelahi. Apalagi kalau perut bukannya ngajak islah (damai-red). Tapi malah jadi kompornya. Akibatnya hati ngomong putih. Nafsu bilang item.

Nafsu mulah terperangah ketika jam 2 tadi malem ngeliat sepatu di teras rumah Om Polisi lenyap. Bak menguap hasil distilasi sempurna. Distilate absolutly. Hilang tanpa bekas. Yang ada hanya 2 pasang kaos kaki NIKE yang ditinggal maling. Padahal di rumah Polisi. Itupun di Kompleks Aspol. Dasar maling. Gak tau sekarang ini aku jg lagi pas masa bokek nya. Kalo ibarat Merapi, nafsu ini boleh dibilang dah beberapa kali kentut. Dah siap ngeluarin lavanya. Cuma hati yang selalu bilang “Boleh lah Yan. Sekarang kehilangan sepetu yang harganya 30rb. Nanti kalo dah jadi Dirut Oil n Gas Company lu dapet 30milyar!!!”.

Yah, kadang hati ini cukup pintar cari muka. Atas nama Tuhan dia bilang kayak gitu. Tapi ya emang. Dengan tauhid yang ala kadarnya, hati ini tetap menjagaku sampai sekarang. Ditemani pula sama hati2 di dada temen2 yang baik bersahaja. Ya Allah, jangan Kau bolak-balikkan hati ini. Biarkanlah hati ini selalu pintar cari muka dihadapanku. Cari muka demi mendapatkan keikhlasan di hadapan-Mu. Amien…

Posted by: irwiyan | November 4, 2007

Cesc Fabregas

wah…semenjak ditinggal Thiery Henry Arsenal makin mantap saja tampil dipapan atas EPL. padahal public Emirate Stadium sendiri sempat menyesali kepergian bomber timnas Prancis tersebut. PAra pejabat Arsenal pun tak pelak jadi korban kekesalan fans the Gunner. Kritik pedas. Cemoohan sarkastis. Bahkan arsitek Arsene Wenger dikabarkan mundur dari jabatannya waktu itu dan akan pindah ke klub besar yang telah lama menunggunya.

Namun keadaan itu tak berlangsung lama. Public Emirates dibuat mengenga sepanjang atraksi lapangan para biji catur sang Arsitek. Terutama pemain tengah yang satu ini. Begitu ciamik permainannya. Kalau ibarat orang bilang, tiada gading yang retak, saya juga turut bingung retaknya Sang Gading berdarah Spanyol itu ada dimana? apa ada dibulu keteknya??? oh…oh…Frances Fabregas….aku padamu!! hehe….

Posted by: irwiyan | November 4, 2007

Chelsea

Selepas kepergian Mourinho dari Chelsea jangan sampai the blues jadi terpuruk. Coba lihat Arsenal. Selepas kepergian Henry sebagai maskot The Gunners, Aresnal sekarang jaya kusuma wardhani (ah itu mah teman saya yang suka ngupil-red).Maksudnya makin jaya meuncaki klasemen EPL. Chelsea buru atuh! Urang jeng maneh!

Posted by: irwiyan | November 3, 2007

eufimisme tak berujung

Indonesia seolah-olah telah terbiasa dengan budaya eufimisme. ketika “ditangkap” menjadi “diamankan”, ketika “menaikkan harga” menjadi”penyesuaian harga” seakan-akan begitu gampangnya menyikapi keadaan tanpa memikirkan apa yang sebenarnya ada. Kata-kata menjadi senjata untuk memperhalus keadaan. Kenyataan menjadi korban kebohongan. Melalui kata, yang nyata tidak lagi menjadi fakta tapi menjadi sebuah penyempurna derita. Bukan kesopanan yang terkesan tapi justru budaya menyepelekan. Kata sopan dari luar tapi justru begitu sembrono artinya. Tidak empatik. Tidak simpatik. Tidak etis. Hanya sekedar pelengkap estetis secara lahiriyah. Tapi sebenarnya busuk.

sudahlah…sudahlah….

Saya ( bagian kecil dari kami ) sudah muak dengan eufimisme-eufimisme itu.

Posted by: irwiyan | November 3, 2007

Makhluk Tuhan yang ke-sekian : Ahmad Irwiyan Haq

Alhamadulillah Tuhan telah memberi kesempatan (lagi) bagi saya bersentujahn dengan keyboard komputer sehingga bisa menulis sepatah dua patah kata dalam blog saya ini. Saya adalah sosok manusisa yang merasa beruntung karena telah tercipta begitu adanya dengan segala kesempurnaan Tuhan Yang Maha Sempurna. Maha di Maha. Terdampar di tepi kampus ITb yang bernama Program Studi Teknik Kimia menambah kesempurnaan perjalanan hidup yang selama ini dijalani. Ya, Ahmad Irwiyan Haq hidup disela ributnya dunia. Di tengah bergolaknya peradaban manusia yang tak pernah betah pada satu titik stagnasi. Di tengah sibuknya burung-burung koak yang turut meramaikan pola-pola keserakahan manusia sampai-sampai merebut kekuasaan dengan mengganggu kenyamanan pengguna jalan ganesha, dengan kotoran-kotorannya.

regards,

Adirwiyaaq

Categories