Antara Dosa dan Sebutir Nasi
Ingatkah kawan, berapa kali kita makan dalam sehari? Ingatkan pula sahabatku, berapa butir nasi yang tersisa ketika kita menyudahi makan. Tanpa adanya prejudice yang bermacam-macam, coba kita kuantifikasi jumlah nasi yang terbuang percuma. Padahal butiran-butiran nasi itu telah melewati sekian banyak langkah. Langkah itu juga sudah termasuk kepongahan para pembuat kebijakan menyangkut masalah pengadaan pupuk, bibit dan lain-lain-lain-lainnya.
Mari kita mulai menghitung-hitung sesuatu yang sepele tapi sesungguhnya tidak. Jika kita setiap hari makan tiga kali, maka kita anggap kita makan tiga piring dalam sehari. Jika dalam setiap piring kita menyisakan secuil nasi di pinggir setiap piring, berapa jumlah yang tersisa dalam sehari. Katakanlah secui itu 10 gram, berarti setiap hari kita membuang nasi sebanyak 30 gram.
Berapa banyak nasi yang terbuang dalam sebulan? Jika dihitung secara linear, maka dalam sebulan kita telah me-mubazir-kan nasi sebanyak 900 gram. Untuk lebih mudahnya, taruhlah dalam sebulan bukan 900 gram, tetapi 1 kg. Ini mungkin terjadi karena bisa saja dalam sekali makan, lebih banyak yang disisakan dari yang diasumsiin di atas. Atau bisa saja dalam sehari kita makan lebih dari tiga kali.
Kemudian, jika yang melakukan hal seperti itu bukan cuma kita seorang? Jika yang melakukan hal seperti itu (ambil angka minimal) sebanyak 1000 orang di seluruh Indonesia (berarti sekitar 0,0004 % penduduk Indonesia), maka nasi yang terbuang sekitar 1 ton perbulan. Bagaimana jika kenyataannya lebih dari itu karena angka 1000 itu terlalu kecil? Sekali lagi tanpa prasangka yang terlalu berlebihan, maka jumlah 100 ton (bahkan lebih), itu mungkin saja terjadi.
Bayangkan kawan!
Pertanyannya, apakah kita bagian dari 1000 orang itu? Tidak kah kita miris terhadap orang-orang yang belum tentu makan dalam seharinya, dalam 2 harinya, dalam 3 harinya, dan seterusnya?Tidakkah hati ini pilu mendengar banyak yang busung lapar?
Kemarin, ada berita yang sangat menyedihkan, Kawan. Ketika telinga dan mata menyimak berita di tv, kemudian signal berita itu dikirim oleh transducer alami dan sampailah ke hati yang paling dalam, hati ini berkata “Masya Allah!!! Apakah aku turut berdosa terhadap kematian mereka ?”. Ya, mereka adalah seorang ibu yang sedang mengandung anak keempatnya beserta seorang anknya yang masih kecil. Merka mati dalam keadaan lapar. Sekali lagi, mereka mati kelaparan karena tak bisa makan sesuatu yang layak dimakan.
Bisa jadi dosa-dosa yang tak kita sadari turut mengantarkan nyawa mereka terlepas dari tubuh yang sangat menderita. Sadarkah kita akan hal itu?
Adirwiyaaq
Dago, Bandung, 9 Maret 2008
Di kamar kosan sambil menikmati anugerah gerimis yang tak henti-henti…